KKN Di Desa Penari (Versi Nur) Lanjutan

Posted on

namun aneh, tidak ada jawaban apapun dari Widya. Nur, dengan berselimut handuk,. mencoba membuka pintu bilik, namun, pintu seperti di tahan oleh orang yang ada di luar. “Wid, buka!! Wid buka” teriak Nur, sembari menggedor pintu anyam bambu itu. namun, tetap tidak ada jawaban apapun dari Widya,. sampai, Nur menyadari, di belakangnya, ada sosok Hitam itu, besar sekali,. sampai menyentuh langit bilik.

Nur pun memejamkan mata rapat-rapat. yang pertama ia lakukan adalah istighfar kencang-kencang, sembari tanganya mencari batu di tanah bilik,. ketika tanganya berhasil meraih sebuah batu,. Nur melemparkan kuat-kuat batu itu, sembari mengucap, doa yang di ajarkan gurunya bila bertemu lelembut,. sampai, sosok itu lenyap,. butuh waktu untuk Nur menenangkan diri, ia tahu, ia sudah di incar,.

namun kenapa ia di incar, ia tidak melakukan apapun yang membuatnya di incar,. bahkan bila karena ia secara tidak sengaja melihat makhluk itu, seharunya bukan hanya Nur yang sial, tapi makhluk itu juga sial. tiba-tiba pintu terbuka,. dimana Widya melihat Nur dengan ekspresi ganjil. “kenapa Wid?”. “He?” “gak papa” ucap Widya saat itu. “ayo mandi, biar aku yang jaga, cepat ya, sudah mau malam”. awalnya Widya tampak ragu, ia seperti mau mengurungkan niatnya,. tidak hanya itu,

Widya seperti mau mengatakan sesuatu namun kemudian mengurungkanya,. ia kemudian menutup pintu bilik. ketika Nur, berjaga di luar,. ia sayup-mendengar suara orang berkidung. penasaran, Nur mulai mencari sumber suara, dan berakhir pada. gemah dari dalam Bilik. takut, hal buruk terjadi, Nur mencoba memanggil Widya,. menyuruhnya agar ia segera menyelesaikanya,

namun, Widya tidak menjawab teriakanya,. suara kidung itu, terdengar semakin jelas. dari samping Bilik, ada semak belukar,. Nur mencoba melempar batu dari sana,. namun, ia terperanjat saat tahu, dibelakang bilik ada sesaji, lengkap dengan bau kemenyan di bakar. Nur mencoba mengabaikanya, tetap berusaha memanggil sahabatnya, sampai, dari salah satu celah, ia melihat. yang didalam bilik, bukan Widya,

namun sosok cantik jelita,. siapa lagi bila bukan, si penari yang Nur lihat di malam kedatanganya di desa ini. wanita cantik itu, membasuh badanya dengan anggun,. sembari berkidung dengan suara yang membuat Nur tidak tahu harus berujar apa. dimana Widya. pikir Nur,. ia tidak menemukan sahabatnya, tidak dimanapun ia mencoba melihat. sampai, sosok itu tersenyum seolah tahu, Nur melihatnya.

lalu, ia bergerak menuju pintu, membukanya, dan saat itulah,. Nur melihat Widya, keluar dengan wajah kebingungan,. selama diperjalanan pulang, Widya mencoba mengajak bicara Nur,. namun, Nur tidak merespon ucapan Widya,. ia memikirkan apa yang baru saja ia lihat bukan hal kebetulan semata. seperti sebuah pesan,. pesan apa?,

Widya dalam bahaya, atau, dirinya yang sedang dalam bahaya. mungkin pesannya ia dalam bahaya atau dirinya yang sedang dalam bahaya. jadi, kalau nggak widya ya nur yang bahaya. Malam setelah sholat Isya, Nur berpamitan sama Ayu dan Widya,. ia ingin menemui pak Prabu, untuk pengajuan proposal prokernya bersama Anton. Ayu sempat bertanya pada Nur, apakah Anton menemani, namun Nur mengatakan, ia bisa sendiri,. meski Ayu menawarkan diri, namun Nur menolaknya.

ada hal yang mau di luruskan, bukan prokernya, namun apa yang sebenarnya terjadi disini,. pak Prabu tahu sesuatu. setidaknya itu asumsi Nur. dan, ia merasa harus bertemu beliau malam ini, seakan-akan ada yang membisikinya bahwa, ia harus pergi ke rumah pak Prabu. benar saja. pak Prabu duduk di teras rumah, seakan-akan, beliau sudah menunggunya. namun, ada sosok lain yang duduk bersamanya,. seorang lelaki renta, ia duduk, sembari mengisap bakau lintingan, dan ketika Nur datang, si lelaki tua, tersenyum seperti mengenalinya.

Nur mendekat, memberi salam, pak Prabu tersenyum ramah seperti biasanya,. lalu mempersilahkan Nur duduk,. namun, Nur lebih tertuju pada 3 gelas kopi yang tersaji. “ini yang punya kemana ya pak, kopinya kelebihan satu?”. “itu kopi untuk kamu, mbak yang cantik” ucap lelaki renta itu. ia masih tersenyum, memandang Nur. mohon maaf kek, saya tidak minum kopi. “sudahlah, di minum dulu, gak baik nolak pemberian tuan rumah disini. tidak bagus pokoknya”. “iya pak” ucap Nur.

ketika Nur menyesap kopinya, aneh, kopi itu terasa seperti aroma melati,. rasanya manis, dan ia tidak menemukan ampas, padahal dari luar, kopi itu terlihat seperti kopi hitam yang sekali lihat, bisa di rasakan rasanya akan sepahit apa. si kakek bertanya. “bagaimana rasanya?”. “enak, mbah”. si mbah mengangguk puas, kemudian bertanya kembali. “sekarang, kamu boleh cerita, kenapa kamu kesini anak cantik?”.

saya mau tanya sama pak Prabu, kek. tanya soal?. “saya di ikuti oleh sosok besar kek,. saya takut. apa saya sudah melakukan kesalahan, sehingga saya dikejar, apa ada yang saya perbuat dan membuat tidak nyaman warga sini, saya minta maaf sebesar-besarnya”. saat itulah, pak Prabu bicara. “nak, ini bukan salahmu,. alasan kenapa kamu diikuti, karena kamu bawa sesuatu dari luar”. maksudnya bagaimana pak, saya tidak mengerti maksud anda.

si kakek, kemudian melanjutkan. “kamu itu nak, ada yang menjaga, siapa ya?. nenek-nenek,. nah, itu yang tidak diterima disini. paham nak”. “saya, menjaga. mohon maaf, saya belum mengerti”. “sudah begini saja, besok malam, kamu kesini, saya tunjukkan sesuatu sama kamu”. meski tidak mengerti maksud ucapan pak Prabu dan lelaki renta itu,. Nur akhirnya kembali ke penginapanya. dengan membawa nama lelaki renta itu, yang menyebut dirinya dengan nama “Mbah Buyut”. yang pertama Nur lihat saat ia menginjak penginapan adalah, Widya. ia seperti sudah menunggunya, dan benar saja, Widya mengajukan pertanyaan aneh-, seperti darimana, kenapa tidak minta di temenin

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *