KKN Di Desa Penari (Versi Nur) Lanjutan

Posted on

si wanita tersenyum menyambut tamu yang sudah ia tunggu. melihatnya dari balik jalan lain, nur mendapati si wanita sudah hilang tanpa jejak. ia tahu dirinya sudah disambut dengan entah apa itu. memasuki Desa, mas Ilham berpeluk kangen dengan seorang pria. yang mungkin seumuran dengan ayahnya di rumah.

pria itu ramah, dan murah senyum, menyambut tanganya,. Nur mendengar si pria memperkenalkan diri. “saya, Prabu”. saya minta maaf ham, aku tahu, kita sudah kenal lama,. tapi desa ini tidak pernah di pakai kegiatan KKN. “tolong lah mas” kata mas Ilham, “dibantu, adikku,”. suasana saat itu, tegang. “GAK BISA HAM” kata pak Prabu menekan mas Ilham dengan ekspresi tak terduga. “begini loh pak, maaf, saya minta tolong, saya akan menjaga sikap disini” kata ayu.

“saya tidak akan aneh-aneh. tolong pak” ucap Ayu,. matanya berlinangan air mata,. ia tidak pernah melihat Ayu sengotot ini,. mimik wajah pak Prabu yang sebelumnya mengeras, kini melunak. “berapa yang KKN nanti dek?”. dengan bersemangat Ayu menjawab. “6 pak”. hari itu berakhir, dengan persetujuan pak Prabu dan tentu saja,. masyarakat sekitar,. sebelum meninggalkan tempat itu, Ayu dan Nur berkeliling memeriksa desa sebentar. disana ia sudah tahu.

proker apa saja yang akan menjadi wacana mereka,. proker ini maksudnya program kerja. salah satunya, kamar mandi dengan air sumur. ia tahu, masyarakat mendapatka akses air hanya dari sungai,. jadi terfkirkan mungkin sumur lebih efisien,. di tengah mereka merundingkan berbagai proker kelak,. Nur, terdiam melihat sebuah batu yang ditutup oleh kain merah. di bawahnya, ada sesajian lengkap dengan bau kemenyan. diatasnya, berdiri sosok hitam, dengan mata picing, menyala merah. meski hari siang bolong,

Nur bisa melihat,. kulitnya yang di tutup oleh bulu, serta tanduk kerbau,. mata mereka saling melihat satu sama lain,. sebelum Nur mengatakan pada Ayu, bahwa, mereka harus pulang. “kenapa sih Nur, kok kamu buru buru pergi” kata ayu. “kasihan mas Ilham, sudah menunggu” ucap Nur. “ya sudah, ayok” Ayu menimpali. mereka pun segera naik motor, sebelum keluar dari desa itu. sosok yang Nur lihat,. apalagi bila bukan Genderuwo. “Nur, ajak si Bima, sama Widya, sama kenalanku kating” ucap Ayu didalam mobil. “ngapain sih ngajak Bima”. “biar rame, kan sudah kenal lama” sahut Ayu. “kenapa bukan kamu saja yang ngajak” timpal Nur.

“kan kalian pernah satu pondok, jadi sudah kenal lebih lama”, “pokoknya ajak anak itu ya”. “ya sudah, iya” Nur pun mengalah. “biar Widya tak telpon, biar cepat di buatkan proposalnya”,. “mumpung kampus belum buat daftar KKN nya,. bisa gawat kalau sampai kampus udah buat daftarnya, mumpung kita sudah punya tempat KKN nya”. pelan, mobil itu pun meninggalkan jalanan hutan itu.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *