KKN Di Desa Penari (Versi Nur) Lanjutan

Posted on

hingga, kesempatan itu muncul, Nur, melihat kamar, tanpa ada satu orangpun,. Ayu dan Widya mengerjakan proker mereka, Nur membuka almari, mengeluarkan isi tas Widya. ia membongkar semuanya, mencari hingga ke celah terkecil di tas yang Widya bawa,. semua persedian yang ia bawa tak luput dari pencarianya, sampai, Nur akhirnya menemukanya. sebuah logam melingkar, dengan bentuk ukiran dari kemuning, bentuknya indah layaknya sebuah perhiasan,.

tidak hanya itu, di tengahnya, ada batu mulia berwarna hijau, dengan wajah bingung, Nur bergumam sendiran. “Kawaturih” itu,. bagaimana bisa ada pada Widya. melihat itu, Nur sudah hilang kesabaran,. ia membongkar isi tas Ayu, mengambil selendang hijaunya, 2 benda itu,. Nur simpan pada sebuah kotak kayu yang ia temukan di pawon (dapur) tempat biasa untuk menyimpan bumbu masakan,. tidak hanya itu, Nur menutupinya dengan kain putih, yang di dalamnya, ada kitab agamanya.

Nur menyembunyikan tepat di bawah meja kamar, tertutup taplak meja. lalu, Nur pergi mencari Ayu,. setelah menemukan Ayu di tempat proker, Nur menarik Ayu, membawanya menjauh sebelum menampar wajahnya sampai Ayu, tidak bisa bicara apa-apa. “gak waras kamu ya, barang seperti itu, sengaja di tarus di tas Widya!! orang gila, mau kamu umpankan Widya ya, apa gak cukup sama masalahmu!!”. “jelaskan kok bisa kamu tega ya, gimana penjelasanmu kok bisa punya barang seperti itu” tanya nur. barang apa sih Nur?) tanya ayu. “selendang hijau itu”. “selendang hijau” katanya. Ayu yang mendengar itu tampak kaget. “kok bisa kamu tahu, kamu itu kelewatan kok bisa bongkar barang milik orang lain”. “sekarang, ikut aku ke pak Prabu” kata nur.

Nur menarik Ayu, menyeretnya kuat-kuat, namun Ayu menolak sebelum ia mengatakanya. “aku disuruh naruh benda itu, sebagai pengganti selendang itu, selendang yang bikin Bima mau”. “Siapa yang ngasih itu?” tanya Nur, namun Ayu menolak mengatakanya. “siapa kok!!”. Ayu tetap menolak, bahkan sampai Nur mengatakan apa perempuan yang juga Bima temui yang menyuruhnya, ekspresi Ayu tampak kaget mendengarnya,.

Ayu mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu siapa perempuan itu, dan siapa yang memberinya juga tidak ada hubunganya sama perempuan itu,. bahkan sekalipun, Ayu tidak pernah bertemu perempuan yang di katakan Bima sangat cantik itu. Nur menyerah, namun firasat buruknya, semakin terasa. ada hal ganjil disini, yang Nur sadari di kemudian hari, orang atau makhluk yang memberi Nur selendang ini, siapa?.

sampai akhir cerita ini belum dipecahkan, bahkan dari saat gw bicara sama mbak Nur, beliau hanya berasumsi, namun tidak berani mengatakan. puncaknya, adalah setelah malam panjang itu. disini, petaka yang paling di takutkan oleh Nur, terjawab. Nur terbangun ketika subuh, ia tersentak saat mendengar Widya menangis, tangisanya sangat keras sampai Nur terkesiap. lalu terbangun dari tidurnya. saat ia melihat, apa yang membuatnya terbangun, Nur melihat Ayu, dengan mata terbuka, ia mengangah, seperti mau mengatakan sesuatu. belum berhenti sampai disana, Nur tidak menemukan Widya di tempatnya, hal itu, membuat Nur menjerit sehingga Wahyu dan Anton merangsek masuk dengan wajah khawatir. “ada apa Nur?”.

“Widya hilang mas” kata nur. Wahyu dan Anton terhenyak sesaat, sebelum. “Bima… juga gak ada di dalam kamar” kata Anton buru-buru,. sontak, semua mata memandang Ayu, Wahyu terhentak bingung. “Ayu kenapa Nur”. “panggilkan pak Prabu”. Anton yang mendengarnya langsung pergi. “yu ayok bangun yu” namun, Ayu masih sama, ia hanya melihat langit-langit,. Nur makan sesuatu agar mulut ayu tertutup, namun, ia terus mengangah, Wahyu yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa. “aduh, ada apa sih ini”. “coba panggilkan warga jangan melihat saja!”. Wahyu pun ikut pergi, Nur terus menahan mulut Ayu.

sampai Pak prabu datang bersama Anton dan melihatnya. “kok bisa sampai begini sih nak”. Pak prabu, pergi ke pawon, ia kembali membawa teko air,. Nur menahan isi kepala Ayu, dan meminumkanya. tiba-tiba, ayu menutup mulutnya, namun, ia masih belum bereaksi, tidak beberapa lama, warga sudah berdatangan bersama Wahyu,. saat itu, rumah itu di penuhi warga, tanpa banyak bicara, pak Prabu menyuruh beberapa orang untuk memanggil mbah Buyut. dan warga itu pun pergi. Nur menjelaskan kronologi kejadian itu, namun, ia meminta pak Prabu tidak menceritakan semua ini kepada warga,.

Anton dan Wahyu yang mendengarnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “asem! kok bisa bisanya” Wahyu tampak merah padam mendengarnya. pak Prabu pun mengumpulkan warga, meminta mereka semua pergi menyisir setiap penjuru Desa, ia beralasan, bahwa Bima dan Widya hilang kemarin malam,. dan saat ini belum kembali. meski warga awalnya bingung, bagaimana bisa, namun mereka semua langsung bergerak, termasuk Wahyu. Anton pun begitu, ia ikut menyisir ke hilir sampai hulu sungai,. sebisa mungkin dengan beberapa warga yang membawa parang dan berbagai barang yang tidak pernah ia pahami. Nur terus menangis,

melihat kondisi Ayu, membuat ia tidak bisa menahan kesedihan yang sudah memenuhi hatinya. pak Prabu meminta penjelasan lebih detail, setelah itu, Nur menunjukkan barang yang seharusnya ia berikan kepada pak Prabu saat mendapatkanya. tepat ketika membuka kotak itu, pak Prabu yang melihatnya, kaget bukan main, sampai ia tiba-tiba berteriak marah “DAPAT DARI MANA?!”. BENDA INI!!. Nur yang kaget, kemudian menjelaskan sisa ceritanya, disana, pak Prabu terlihat frustasi, ia kemudian mengatakan kepada Nur,. “bila sampai temanmu, tidak ditemukan, ikhlaskan biar aku yang menghadapi sisanya”.

Nur pun bertanya, benda apa itu sebenarnya, namun pak Prabu tidak bicara,. ia harus menunggu datangnya mbah Buyut yang akan menceritakan semuanya. berjam-jam sudah di lewati namun belum ada kabar satupun dari warga yang kembali,. sampai terdengar suara motor mendekat, manakala Nur dan pak Prabu berdiri untuk melihat sesiapa yang datang,. mbah Buyut mendetak dengan tergopoh-gopoh, seakan mencari sesuatu,. mbah Buyut mengambil kawaturih, kemudian bertanya siapa yang punya,

Nur mendekat, menjelaskan semuanya,. ekspresi tenang mbah Buyut, tidak terlihat sama sekali. kemudian ia menatap Ayu, helaan nafas berat mbah Buyut keluarkan, kemudian ia, meminta Prabu membuatkan kopi hitam. mbah Buyut duduk sembari berpikir, banyak pertanyaan yang ia ajukan mulai, sejak kapan ada benda seperti ini disini,. lalu bagaimana bisa selendang itu di miliki Ayu,.

Nur menceritakan semuanya,. saat menyesap kopi itu, mbah Buyut berujar. “temanmu terjebak dalam pusaran”. “lalu bagaimana mbah” tanya nur. satu temanmu sudah ketemu lagi, tapi rohnya belum, sabar ya. tidak beberapa lama, kerumunan warga mendekat, Wahyu masuk wajahnya pucat. seorang warga membopong seseorang. ketika Nur melihatnya, ia tidak bisa menghentikan jeritanya, manakala melihat Bima kejang-kejang layaknya seorang yang terkena epilepsi.

Wahyu, segera memeluknya, menutupi Nur agar tidak melihat Bima yang menjadi seperti itu. Mbah buyut kemudian mengatakan, bahwa bila sukma dua orang ini sedang terjebak, namun, ada satu orang yang bukan hanya sukmanya yang hilang atau di sesatkan,. melainkan raganya juga ikut disesatkan, ia adalah Widya, orang yang paling di inginkan oleh, Badarawuhi namun, ia meleset. Mbah buyut menunjukkan kawaturih, yang harusnya memiliki pasangan, benda ini di letakkan di lengan seorang penari, sebagai susuk,. entah ada kejadian apa, Badarawuhi menginginkan benda ini ada pada Widya,.

namun, Nur yang menemukanya, kemudian mengambilnya, membuat benda ini- kehilangan pemilik,. yang maka artinya, Nur yang memiliki, tapi, Nur di lindungi, itulah alasan kenapa Nur selalu merasakan bahwa badanya terasa berat di jam-jam tertentu,. mbah Dok yang melindungi Nur sudah berkelahi hampir dengan setengah penghuni hutan ini. setelah itu, pak Prabu meminta agar Ayu dan Bima di tutup oleh kain selendang,. di ikat dengan tali kain kafan, membiarkanya seolah-olah mereka sudah tidak bernyawa. mbah Buyut, pergi ke kamar, ia akan mencari Widya, menjelma sebagai Anjing hitam dengan ilmu kebatinanya. pak Prabu menceritakan bahwa memang ada rahasia yang tidak ia katakan dan alasan kenapa ia menolak keras di adakan kegiatan ini sejak awal. tepat di samping lereng, ada tapak tilas, tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukkan tari, bukan untuk manusia namun untuk jin hutan. ia mengatakan, dulu, setiap di adakan tarian itu, untuk menghindari balak (bencana) bagi desa ini,. seiring berjalannya waktu, rupanya, mereka yang menari untuk desa ini, akan di tumbalkan,. masalahnya, setiap penari haruslah dari perempuan muda yang masih perawan.

“tapi Ayu pak” kata Nur membantah. “itu masalahnya” kata pak Prabu,. “asumsi saya, Ayu sejak awal hanya sebagai perantara, ke Widya lewat Bima,. namun, Ayu tidak memenuhi tugasnya, akibatnya, Ayu di buatkan jalan pintas, ia di beri selendang hijau itu. tau darimana selendang itu?”. selendang para penari. pak Prabu kemudian duduk, matanya merah padam,. “seharusnya saya menolak habis-habisan bila bukan karena dia adik teman saya”. “selendang itu, adalah selendang yang keramat, tidak ada lelaki yang bisa menolak selendang itu saat di pakai oleh perempuan”. “nak Ayu tidak salah, nak Bima pun begitu, saya yang salah, seharusnya saya tolak kalian semua, toh anak-anak kami pun tidak ada yang tinggal disini, tempat ini, bukan untuk anak setengah matang seperti kalian”.

mendengar itu, membuat Nur tidak kuasa melihat Ayu,. hari semakin petang, ketika Matahari sudah benar-benar tenggelam, terdengar orang berteriak heboh, ia meneriakkan bila Widya sudah ketemu,. pun saat itu juga, Mbah Buyut keluar, wajahnya tampak kecewa, sepertinya ia tidak bisa membawa Ayu dan Bima pulang, lebih tepatnya belum. momen ketika melihat Widya, membuat Nur tidak bisa bicara apa-apa,. ia berjalan dengan gaguk, seperti barusaja menghadapi peristiwa yang sangat berat

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *