KKN Di Desa Penari (Versi Nur) Lanjutan

Posted on

Nur melihat Widya, wajahnya tampak letih, sperti barusaja mengalami kejadian tidak mengenakan,. semua orang sudah menunggu kedatangan dua anak ini,. yg berjanji akan membelikan keperluan titipan mereka, namun, dari belakang, Wahyu tampak sangat bersemangat seakan ia membawa sesuatu. entah karena suasana hati semua orang buruk di ruangan itu,. Bima mencoba mencairkan suasana,. “kok jadi canggung gini sih” Bima mendekati Widya,. “kamu pasti kecapekan kan, istirahat dulu sana Wid” kata Bima.

namun, Nur dan ayu, memandang sengit perlakuan Bima, sehingga Widya merasa ada yang salah dengan mereka semua. namun, Wahyu yang sedari tadi menggendong isi tasnya, langsung mengambil alih perhatian mereka, dengan nafas menggebu-nggebu,. ia bercerita pengalamanya yang baru saja di tolong warga desa tetangga karena motornya mogok,. namun, anehnya, semua orang memandang Wahyu dengan sinis. Bima yang pertama menanggapi ucapan Wahyu. “desa tetangga apa, gak ada lagi desa disini” kata Bima mengingatkan. “halah, bohong kamu, tahu darimana?” sanggah Wahyu saat itu. aku sudah sering ke kota, bantu warga jual bahan alam disini, jadi ya tau sedikitnya daerah ini. “bohong kamu dasar, sial”. Nur yang sedari tadi mendengar, membantu Bima,. “bener mas Wahyu, gak ada lagi desa disini.”. alih-alih setelah mendengar itu,

Wahyu semakin tidak terima, ia kemudian memanggil Widya,. “Wid tunjukan oleh-oleh yang di kasih tadi sama warga di dalam tasmu”. dengan enggan Widya membuka isi tasnya, Wahyu yang sudah tidak sabar segera merebutnya,. meraihnya dengan tanganya, namun, ekspresinya berubah manakala ia mengeluarkan barang itu. Widya yang melihat benda itu sama kagetnya dengan wahyu, namun Nur yang melihatnya tampak bingung,. pun dengan semua orang saat itu, benda seperti apa yang di bungkus dengan pelepah daun pisang seperti itu. Nur sempat melihat Wahyu dan Widya bertukar pandang, ia tahu ada yg salah.

saat Wahyu membukanya, kaget, yang ada di dalamnya rupanya adalah kepala monyet terpenggal dengan darah yang masih segar. seketika, reaksi semua orang membalikkan wajahnya,. termasuk Nur yang segera mengambil kain untuk menutupinya,. baunya amis dan membuat seisi ruangan mual. Wahyu tampak shock, Widya apalagi, Ayu segera membopongnya masuk ke dalam kamar,. sementara Bima dan Anton, segera membereskan semua itu.

Wahyu, ia muntah sejadi-jadinya, semalaman, semua orang termenung dengan berbagai kejadian ganjil, termasuk Nur, dimana Widya mencuri pandang. Malam setelah Widya dan Ayu melepas penat, Nur terbangun, ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Bima dan Ayu yang tanpa sengaja ia curi dengar. dengan cekatan dan mengambil resiko, Nur mengambil isi tas Ayu, membawanya menuju ke dapur sendirian. ia merasa, benda itu disana. Nur membongkar semua benda-benda itu, namun, tidak ada yang aneh, toh dia sudah mengeluarkan isi tasnya,. sebelum, Nur sadar, masih ada resleting tas yang belum ia buka,. tepat ketika Nur membukanya, ia bisa mencium aroma wewangian di dalamnya. sebuah selendang hijau milik penari. tiba-tiba, tangan Nur seperti gemetar hebat, nafasnya menjadi sangat berat, tempat ia berada seakan-akan menjadi sangat dingin. dan, tabuhan kendang di ikuti alunan gamelan berkumandang,

Nur tahu, si penari ada disini,. apa yang Ayu sebenarnya lakukan, apa yang Bima sembunyikan?. tepat saat itu juga, Nur melihat dengan mata kepala sendiri,. Widya melangkah masuk ke dapur matanya tajam menatap Nur,. kaget setengah mati, Nur bertanya pada Widya. “ngapain kamu wid, ada disini?”. namun Widya hanya berujar “jangan diteruskan”.

Widya duduk di depan Nur, cara Widya berbicara sangat berbeda, mulai dari suara sampai logat cara menyampaikan pesanya, itu khas jawa sekali yang sampai Nur tidak begitu mengerti. yang Nur tangkap hanya kalimat “salah” “nyawa” “tumbal” itu pun tidak jelas. selain itu, setiap dia melihat Nur, ia seperti memberikan ekspresi sungkan, sepeti anak muda yang memberi hormat kepada orang tua. kalimat terakhir yang Widya ucapkan sebelum kembali ke kamarnya adalah,. “kamu bisa pulang dengan selamat, saya yang jamin” tapi dengan logat jawa.

Nur membereskan semuanya saat itu juga, ia mengembalikan tas Ayu pada tempatnya,. sempat ia melihat Widya yang tengah tidur,. ia mengurungkan niat untuk membangunkanya,. esok, ia harus bertemu dengan Bima, Nur yang paling sadar, tempat ini sudah menolak mereka semua. sejak insiden itu, Ayu menghindari Nur, terlebih Bima apalagi,. meski begitu, tidak ada yang nampak bahwa mereka sedang memiliki urusan,. Widya wahyu dan Anton pun, di buat tidak sadar,. bahwa ada permasalah internal pada kelompok KKN mereka.

Nur, bingung, tidak ada yang bisa untuk di ajak berbagi,. kecuali. mbah Buyut, namun, ia tidak tahu dimana beliau tinggal,. pun Nur sudah mencoba mengelilingi desa, tak di temui sosok lelaki tua itu, sehingga akhirnya,. Nur berinisiatif menyelesaikan ini sendiri,. ia menemui Bima, sore itu, mengajaknya ke tepi sungai. “ceritakan yang gak bisa kamu ceritakan didepan Ayu” kata nur.

Bima tampak menimbang apakah dia harus bicara atau tidak sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakanya. “aku khilaf Nur” kata Bima,. “benar2 ya”. bukan, bukan itu, aku memang khilaf sudah melakukan itu sama Ayu,. tapi aku lebih khilaf sudah mencoba membuat Widya suka sama aku. “maksudnya?” tanya Nur penasaran. “di tempat yang kamu datangi ada penjaganya, seorang perempuan cantik, namanya dawuh”. “jin?” tanya Nur,. “tidak. manusia”. “mana ada, itu jin” sahut nur.

terjadi perdebadan sengit antara Nur dengan Bima, dengan bersikeras Bima mengatakan yang ia temui seorang perempuan warga desa ini. namun, Nur membantah, tidak ada yang tinggal disana,. lagipula tempat itu di larang sejak awal. namun, Bima terus menolak sampai tanpa sengaja,. menampar Nur, hingga terseok di tepi sungai,.

Nur pun menghujani Bima dengan batu,. seakan-akan kepala Bima sudah tidak beres, sampai akhirnya Bima mengatakan,. perempuan itu, sudah memberiku semacam mahkota putih yang ada di lenganya, yang katanya, itu bisa membuat Widya selalu nempel sama aku. Nur yang mendengar itu, semakin tersulut,. bodoh ternyata kamu ya, belum 4 tahun sudah rusak isi kepalamu, yang kamu lakukan itu menyekutukan Bim. “dimana sekarang barang itu?” tanya Nur,. “dibawa oleh Ayu, katanya, sudah hilang”. “aku tidak perduli, gimana caranya, kembalikan barang itu, kamu gak mengerti, perbuatanmu, bisa mendatangkan malapetaka”.

Nur pergi, sekarang, ia tahu harus kemana, menemui Ayu. Nur barusaja bertemu dengan Ayu setelah keluar dari rumah pak Prabu,. Nur tidak mengerti apa yang barusaja dia lakukan. “ngapain kamu”. Ayu mencoba menahan malu, setiap kali melihat Nur,. mata Ayu seperti meratap atas apa yang sudah ia perbuat, dan itu fatal. “gak papa Nur, aku percepat urusanya,. biar anak-anak semuanya bisa fokus garap proker mereka, kita juga harus kembali, intinya fokus dulu sama KKN ya” kata ayu.

“aku mau ngomong yu, soal” kata Nur yang terhenti melihat Anton mendekat, nafasnya terengah-engah,. “Nur, warga yang bantu proker kita kerasukan, rusak semua proker kita” kata anton. Ayu, Nur dan Anton pergi ke lokasi, waktu itu ramai, dan ketika Nur tiba, seorang pria yang di pegangi oleh warga, tampak melotot melihat Nur,.

ia menunjuk Nur seakan biang masalah di desa ini, ia menyentak dengan suara berat. “Tamu sudah dihormati tambah seenaknya, kesini kamu kesini!!”. Nur kaget, ia di lindungi warga lain, tidak hanya pria itu, ada satu lagi, yang juga di tahan, sayangnya, pria yang satu lagi, melotot pada pria pertama, seakan ia marah pada warga desa itu. “saya sudah berjanji sama seseorang untuk jaga anak ini, kamu tidak boleh membuat masalah sama dia”. warga yang resah akhirnya membawa Nur ke rumah mereka,

berikut Ayu dan Anton, di ikuti yang lain, kecuali, Widya. saat Wahyu di konfirmasi, dimana Widya,. Wahyu mengatakan Widya sama warga lain melanjutkan prokernya, tidak ada yang tahu mereka ada di salah satu rumah warga,. namun, ketika langit mulai petang,. Nur hilang dari kamarnya, warga yang tahu, panik. terakhir kali, Nur pingsan.

Nur terbangun dalam keadaan menggunakan mukenah sholat dan ada Widya di sampingnya,. namun, wajah Widya tampak tegang, Widya tidak bisa menyembunyikan bahwa ia baru saja mengalami kejadian janggal. “sejak kapan kamu bisa lihat begituan?” tanya widya. Nur yang mendengar itu kaget, sejak kapan Widya tahu dan bertanya soal itu. mereka terjebak dalam suasana canggung.

Nur jadi berpikir, bahwa kunci semuanya, mungkin ada pada Widya,. sejak awal, Widya juga yang paling aneh di tempat ini. “aku gak bisa jelaskan secara spesifik, tapi, aku sudah merasa begini sejak mondok, yang jelas, ghaib itu nyata Wid”. “kamu ada yang jaga ya?” tanya Widya,. yang membuat Nur semakin kaget, bingung harus menjelaskanya, ia harus mengingat bahwa sebelum keluar dari pesantren, banyak temanya yang bilang, setiap malam,.

Nur terbangun dan melafaldzkan doa yang bahkan sangat susah di hafal oleh santri pondok saat itu. teman-temanya sampai memanggil guru mereka, agar Nur di ruqiah, namun, guru Nur menolak, beralasan bahwa, selama tidak menganggu keimanan Nur, di biarkan saja,. daripada menjadi boomerang untuk Nur, bahkan,. guru Nur sudah berulang kali menjelaskan bahwa, ia harus tetap mengimankan kepercayaanya, tidak perlu memperdulikan jin model apa yang mengikutinya selama ini.

si guru memanggil jin itu dengan nama “Mbah dok” karena berwujud wanita tua. tanpa Nur sadari, itu adalah kali pertama ia bisa bicara lagi sama Widya setelah lama,. ia seolah saling menjauhi satu sama lain, Nur menceritakan semuanya,. pengalaman di pondok hingga ia keluar darisana, kecuali, insiden ganjil di tempat ini,.

Nur masih menyimpanya sendiri. karena Nur percaya, Widya punya apa yang ia cari selama ini, meski itu hanya asumsi,. namun, ia yakin, Widya memilikinya.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *