KKN Di Desa Penari (Versi Nur) Lanjutan

Posted on

Nur terdiam untuk mendengarkan. rupanya, suara itu berasal dari Ayu dan Bima,. unutk apa mereka berkelahi. ada satu kalimat yang paling di ingat oleh Nur, adalah, kalimat ketika Bima mengatakan. “dimana mahkota putih yang aku serahkan sama kamu. aku kan sudah nyuruh kamu memberikanya kepada Widya!! kok dia belum nerima benda itu!!”. Nur tidak memahami maksud mahkota putih itu,

namun, Nur mengerti, ada sesuatu, diantara mereka. semenjak kejadian itu. Nur merasa, firasatnya semakin buruk,. di mulai dengan suara berbisik dari warga. banyak warga yang mengeluhkan bahwa proker Ayu dan Bima adalah proker yang paling banyak di tentang,. namun Nur belum paham alasan kenapa di tentang. sampai Anton memberitahu. “temanmu si Bima, dia mau buat rumah bibit, di jalan tapak tilas,. tentu saja banyak yang gak terima, itu tempat di keramatkan” kata anton. Nur masih belum mengerti maksud Anton. “Tapak tilas itu tempat apa, kok sampai di larang,. kan bagus proker mereka untuk kemajuan desa ini” ucap Nur,. “ya aku mana tau, pokoknya di larang”.

“dimana sih tempatnya, kok aku gak tau, kamu bisa antarkan aku kesana” ucap Nur penasaran. “lha, matamu, gila aja, pak Prabu sendiri melarang masuk kesana, itu tempat langsung ke hutan belantara”. namun, Nur masih penasaran, sehingga ia tetap bersikeras mau kesana,. jadi ia bertanya pada Anton meski dengan mengatakan bahwa ia bertanya untuk menghindari tempat itu. Anton, setuju. ia memberitahu letak tempat itu berada, yang ternyata adalah lereng bukit dengan satu jalan setapak ke atas,.

di sampingnya, memang adalah perkebunan ubi tempat Bima dan Ayu melaksakan proker,. namun, sore itu, 2 anak itu tidak ada disana. entah kemana. setelah selesai memberitahu, Anton mengajak Nur pergi darisana, namun, Nur mengatakan, sore ini ada janji temu dengan pak Prabu,. jadi jalan mereka akan berpisah disini. meski awalnya Anton curiga, namun akhirnya ia percaya dan pergi. setelah Anton pergi,

Nur menatap tempat itu. ia menatap lama, gapura kecil, sama seperti yang lain, ada sesajen disana, tidak hanya itu, gapura itu di ikat dengan kain merah dan hitam,. yang menandakan bahwa tempat itu sangat di larang,. namun, insting rasa penasaranya sudah tidak tertahankan lagi, seperti memanggil. jalanya menanjak dengan sulur akar dan pohon besar disana-sini, butuh perjuangan untuk naik,.

namun anehnya, jalan setapak ini seperti sengaja di buat untuk satu orang,. sehingga jalurnya mudah untuk di telusuri,. menyerupai lorong panjang dengan pemandangan alam terbuka. Nur menyusuri tempat itu, langit sudah berwarna orange, menandakan hanya tinggal beberapa jam lagi, petang akan datang. meski tidak tahu apa yang Nur lakukan disini, namun perasaanya seolah terus menerus mendesaknya untuk melihat ujung jalan setapak ini, kemana ia membawanya. angin berhembus kencang, dan tiap hembusanya, membawa Nur semakin jauh masuk ke dalam,.

ia tidak akan bisa keluar dari jalan setapak karena rimbunya semak belukar dengan duri tajam yang bisa menyayat kulit dan kakinya. namun, ia semakin curiga, semakin masuk, sesuatu ada disana. tetapi, ia harus kecewa, ketika di ujung jalan, bukan jalan lain yang ia lihat,. namun, semak belukar dengan pohon besar menghadang Nur,. di bawahnya di tumbuhi tanaman beluntas yang rimbun,. jalan ini, tidak dapat di lewati lagi. lalu, kenapa tempat ini seolah di keramatkan. apa yang membuat tempat ini begitu keramat bila hanya sebuah jalan satu arah seperti ini. langit sudah mulai petang, Nur bersiap akan kembali,. tetapi, langkahnya terhenti saat ia merasa ada hembusan angin dari semak beluntas di depanya,. ia pun, menyisir semak itu, sampai..

Nur melihat sebuah undakan batu yang di susun miring, ia tidak tahu, rupanya ia berdiri di tepi lereng bukit,. meski awalnya ragu, Nur akhirnya melangkah turun,. menjajak kaki dari batu ke batu sembari berpegang kuat pada sulur akar di lereng,. ia sampai di bawah dengan selamat. seperti dugaanya, ada tempat tak terjamah di desa ini, manakala Nur melihat dengan jelas, sanggar atau bangunan yang lebih terlihat seperti balai sebuah desa,. namun, kenapa tempat ini tidak terawat. Nur berkali-kali melihat langit, hari semakin gelap, namun, ia justru mendekat layaknya sebuah tanah lapang dengan bangunan atap yang bergaya balai desa khas atap jawa,.

Nur mengamati tempat itu setengah begidik. selain kotor dan tak terurus, tidak ada apapun disini, kecuali, sisi ujung dengan banyak gamelan tua tak tersentuh sama sekali. butuh waktu lama untuk Nur mengamati tempat ini sampai ia mengambil kesimpulan,. tempat ini sengaja di tinggalkan begitu saja, kenapa?. ia menyentuh alat musik kendang, mengusapnya, dan semakin yakin, tempat ini sudah sangat lama di tinggalkan. setiap Nur menyentuh alat-alat itu, ia merasa seseorang seperti memainkanya, ada sentuhan kidung di telinganya.

Nur sendirian, namun, ia merasa, ia berdiri di tengah keramaian. kegelapan, sudah menyelimuti tempat itu,. langit sudah membiru, namun. Nur merasa tugasnya belum selsai. sampai, Nur tersentak oleh sebuah suara Familiar yang memanggil namanya,. ketika Nur berbalik menatap sesiapa yang baru saja memanggilnya,. Nur mematung melihat Ayu, berdiri dengan muka tercengang,. dari belakang, muncul Bima, tidak kalah tercengang. suasana menjadi sangat canggung. “yu, bim, kok kalian ada disini?” tanya nur.

Ayu dan Bima hanya mematung, tidak menjawab pertanyaan Nur sama sekali,. hal itu, membuat Nur mendekati mereka, melewatinya dan kemudian ia melihat ada sebuah gubuk di belakang bangunan ini. Nur berbalik, ia kecewa. “Bim, Abah sama Umi kalau tahu perbuatanmu gimana ya,. sebagai temamu lama, aku tidak menyangka hal ini sama sekali”. Bima hanya diam, Ayu, apalagi. “Nur, tolong” ucap Ayu, menyentuh lengan Nur,. “aku gak bicara sama kamu yu, aku mau bicara sama Bima” kata nur. tatapan Nur membuat Ayu beringsut mundur,. Bima masih diam, sebelum Nur akhirnya menggampar tepat di pipinya Bima. “sudah berapa kali?” tanya Nur. “kedua kalinya”. Nur tidak tahu harus berucap apa,. “tunggu, ini artinya, apa yang dikatakan Anton soal dia dengar suara perempuan di kamarmu itu kamu sama ayu!!”.

namun, Bima menatap wajah Nur dengan kaget, tidak hanya itu, Ayu juga terperangah tidak percaya,. kemudian menatap Bima dengan sengit, seakan Nur salah bicara. maksudnya Nur?!) tanya Ayu kaget. “Bim jangan bilang kamu!!”. “sudah, ayo kembali dulu, nanti tak ceritakan semua, tolong jangan ngomong ke siapa2 dulu, ya Nur”. Nur, Ayu dan Bima pergi. wajah Bima tegang, seakan-ia di kejar sesuatu, hingga akhirnya ia keluar dari tempat itu,. langit sudah gelap gulita, dan Nur, merasa ada yang mengikuti mereka semua. setelah sampai di rumah, Nur meminta Bima dan Ayu berkumpul di belakang rumah,. sementara Anton menyesap rokok di teras,. sedangkan Wahyu dan Widya, belum juga pulang, mereka tidak tahu masalah ini, karena Nur merasa hal ini memang tidak seharusnya di ketahui semua orang. “sekarang ceritakan, saya mau dengar, kok bisa ya, teman KKN di hajar seperti ini” kata Nur,. Ayu masih diam, ia memikirkan ucapan Nur yang tadi, Bima mulai berbicara. “khilaf aku Nur” kata Bima, seakan apa yang di ucapkan dari mulutnya terdengar sepele,. “tidak bisa seperti itu, akan ku buat ramai nanti sama keluargamu, laki-laki harus berani bertanggung jawab atas perbuatanya”.

Ayu yang sedari tadi diam, kemudian bicara. “Nur, tolong, jangan di buat ramai dulu, gimana coba reaksi semua orang” ucap Ayu. “aku akan tanggung jawab, Ayu akan saya nikahi habis pulang dari sini”. “goblok ya kalian,. di kira ini masalah sepele,. gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir yang lain,. gak mikir nama kampusmu, gak mikir keluargamu, kalau memang cuma masalah pernikahan ya enak ya, tapi kalian lupa dengan yang namanya karma tabur tuai”.

Ayu yang mendengar itu perlahan sesenggukan, Nur tahu, ia menangis, namun Bima,. ia seperti menyembunyikan sesuatu. ada yang belum ia jelaskan sama sekali. Anton tiba-tiba muncul sembari mengatakan,. “itu loh, dua temanmu sudah datang, entah darimana, masa pulang sampai larut begini”. “Widya sama wahyu ya ton”. Anton mengangguk. “iya”.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *