KKN Di Desa Penari (Versi Nur) Lanjutan

Posted on

namun, Nur tidak ingin menceritakanya,. ia takut bila Widya dan yang lain terlibat. Nur langsung pergi ke kamar, beristirahat, meski pikiranya masih menerawang jauh,. ia tidak tahu harus melakukan apa selain menyimpanya sendiri. berharap mendapatkan ketenangan dalam tidurnya, Nur malah mendapat mimpi, tak terlupakan, sepeti sebuah pesan untuknya. di mimpi itu, Nur melihat sebuah tempat, banyak pepohonan yang tumbuh,

salah satu yang tidak akan pernah Nur lupakan adalah pohon Jati kroyo atau lebih dikenal dengan nama jati belanda. yang tumbuh di sepanjang mata memandang,. bukan hanya itu, ada rimbun tumbuh tanaman beluntas. aroma dedaunan beluntas yang wangi, membuat Nur mengingat kembali saat ia masih tinggan di pesantren,.

namun, Nur sadar, bahwa ia saat ini, berdiri di tengah hutan belantara, sendirian, dengan kegelapan malam yang menyiutkan nyalinya. Nur, mulai berjalan, menyusuri tanah lapang. sejauh mata memandang, Nur hanya melihat pepohonan yang besar diselimuti kabut keputihan,. tepat ketika Nur tengah berjalan, ia mendengar riuh sorai dari kejauhan,.

dari suara itu, terdengar ramai orang, entah ada apa, sehingga keramaian itu, membuat Nur penasaran, ia pun mendekati. semakin mendekati sumber suara, Nur merasa janggal,. entah apakah dari balik pepohonan atau semak belukar, ada yang tengah mengawasinya,. Nur hanya mengucap kalimat yang bisa menguatkan batinya,. bahwa ia, disini, bukan berniat menganggu. “mbah, mohon maaf, cucu’mu hanya ingin lewat, tidak ada keinginan mengganggu, mohon maaf ya mbah”.

kalimat itu, terus Nur, ucapkan. dan, sampailah, ia, di keramaian itu. banyak sekali orang,. mulai dari yang tua, hingga yang muda, dari anak-anak sampai remaja, mereka semua berkumpul menjadi satu,. didepan sebuah sanggar besar, ada alunan musik gamelan, yang mengalun merdu, tepat, ditengah sanggar, ada sosok penari yang sangat cantik. Nur, tidak pernah tahu, ada tempat seperti ini di desa ini,. sebelumnya, ia memang tidak mengikuti pak Prabu saat mengajak semua rombongan temanya berkeliling kampung,. maka, saat itu,

Nur hanya berpikir, di tempat inilah, warga kampung mengadakan hajatan. Nur masih belum menyadari, kenapa dan bagaimana ia bisa sampai disana,. yang ia tahu, ia tersesat sampai akhirnya berakhir ditempat ini. ketika, Nur tengah asyik menikmati pertunjukkan itu, tiba-tiba, terdengar sayup seseorang berteriak,. anehnya, hanya Nur yang merasa mendengarnya. teriakanya pilu, meminta tolong,

Nur pun meninggalkan keramaian itu,. matanya awas, mencari sumber suara yang meminta tolong itu, naas, ketika Nur tengah berjalan,. ia terpelosok jatuh dari sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi,. mencoba bangkit, Nur melihat kakinya mati rasa. saat itulah, Nur melihatnya. seekor ular tengah menatapnya, ia mendesis, membuat Nur hanya bisa terpaku melihatnya. sisiknya hijau zambrud, meski ukuranya tidak terlalu besar, ular itu cukup membuat Nur ketakutan,. dengan tenaga yang tersisa,

Nur merangkak menjauhinya. masalahnya, adalah, setelah itu, muncul orang yang Nur kenal,. sosok yang berjalan mendekati Nur, Widya,. Widya memeluk ular itu, seperti peliharaanya,. membiarkan ular itu, melilit lenganya, seakan-akan ular itu adalah temanya. melihat itu, Nur tidak tahu harus bicara apa. karena setelah itu, Nur tersentak dari tidurnya. setelah mendengar suara bising dari luar rumah. meski masih dalam keadaan shock, Nur segera berlari menuju suara bising itu,. rupanya, di luar rumah, ramai orang tengah berkumpul.

Nur melihat, Wahyu, Ayu, ibu pemilik rumah, Widya, entah apa yang mereka lakukan,. Nur belum mengerti sama sekali, yang ia dengar hanya ucapan ibu pemilk rumah. sudah, sudah, ayo masuk, sudah malam. namun, ketika mata Nur dan Widya bertemu, ada tatapan kebingungan disana. Wahyu kembali ke posyandu tempat ia menginap, sementara si ibu pemilik rumah,. menggandeng Widya masuk ke rumah, hanya tinggal Ayu dan Nur yang ada di luar rumah. ada apa sih yu, kok berisik sekali?”.

Wahyu, bilang, melihat Widya sedang menari disini, entahlah kok bisa, aku juga kaget waktu melihat Widya tidak ada didalam kamar. Nur yang mendengar itu, hanya diam, sembari memikirkan mimpinya. Widya, hanya itu yang terbesit dalam pikiranya Nur. ia tahu, ada yang janggal dari dirinya, Widya dan tempat ini. keesokan hari. sesuai janji yang Nur buat,. ia bertemu dengan mbah Buyut dengan pak Prabu,. kali ini, Nur di ijinkan masuk ke dalam rumahnya. yang mbah Buyut pertama ucapkan adalah. “nak, semalam kamu mimpi apa?”.

Nur pun menceritakan semuanya, termasuk insiden saat ia melihat Widya. yang di pergoki Wahyu tengah menari di malam buta. mbah buyut hanya mengangguk, tidak berbicara apapun, ia hanya berujar,. bahwa, yang ingin di ketahui Nur, adalah sosok hitam yang mengikutinya. Malam itu juga, pak Prabu,. mbah Buyut, dan Nur pergi ke sebuah batu, tempat pertama kali Nur melihat sosok hitam itu. disana, pak Prabu,. menggorok seekor ayam,. dimana darahnya di tab di sebuah wadah, sebelum menyiramkanya di batu itu. “nak, kamu percaya, di hutan ini, ada desa lain yang namanya desa halus”. atau desa makhluk halus.

Nur mengangguk, ia percaya. Mbah Buyut tersenyum,. “yang akan kamu lihat sebentar lagi,. itu satu dari ratusan ribu penghuni dari desa tersebut”. Nur terdiam mendengarnya, dan benar saja, ia bisa melihat makhluk hitam itu, tengah menjilati batu yang baru di guyur darah ayam kampung itu. Makhluk itu, hanya menjilati darah itu, kemudian, pak Prabu mengatakanya. “kamu sadar atau tidak, sebenarnya, membawa tamu ke desa ini, cara gampangnya gitu”. “tamu yang kamu bawa itu, suka sekali membuat masalah di desa ini”. “masalahnya, barang itu sudah terikat di sukma kamu, bila di ambil, bisa mati”. aku sudah berunding sama mbah Buyut,. bila apa yang ada dalam diri kamu, gak usah diambil, tapi di lepaskan saja, selama kamu masih disini, dia tidak akan pergi jauh. barang seperti apa? tanya nur.

Mbah Buyut mendekati Nur, sebelum, menarik ubun-ubunya, kemudian melemparkanya ke batu itu. setelah itu, Nur, tidak bisa melihat makhluk hitam itu lagi. “sudah selesai nak, sekarang, kamu bisa fokus garap tugasmu, gak akan ada yang ganggu kamu lagi”. Siang itu, Nur dan Anton, tengah mengerjakan proker mereka bersama warga desa,. ketika hari sudah siang, ia tanpa sengaja melihat Widya dan wahyu, serta pak Prabu dan Ayu tengah mengendarai motor,. mereka pergi meninggalkan desa, entah kemana.

“Nur, temanmu itu kok aneh sih” tiba-tiba, Anton mengatakan itu. “aneh, siapa?”. “siapa lagi, temanmu, si Bima”. “aneh bagaimana?”. aku sering melihat anak itu bicara sendiri, tersenyam-senyum di kamar, bahkan, aku pernah melihatnya, mohon maaf ya Nur, anak itu Onani dalam kamar. Nur yang mendengar itu tidak bereaksi apapun, hanya berucap. “halah, gak mungkin lah” seakan apa yang dikatakan Anton hanya gurauan. serius? beneran!!. “sama, tapi janji jangan bilang siapa-siapa ya”. “temanmu itu, sering membawa pulang sesajen, trus dia menaruh benda itu di bawah ranjang”.

Nur masih mencoba menahan diri, ia masih tidak bereaksi mendengar Bima di tuduh seperti itu oleh Anton. namun, seketika emosi Nur tak terbendung saat Anton mengatakan itu. “trus, di atas sesajen itu, aku menemukan foto temanmu, Widya, apa, Bima mau pelet si Widya ya”. “kamu itu, tolong di jaga mulutnya, jangan maen fitnah seperti ini”. “kamu kalau gak percaya ayo sini ikut, tak tunjukkan kalau aku tidak pernah berbohong” kata anton.

mendengar Anton menantang seperti itu, saat itu juga, Nur mengikuti Anton yang tengah berjalan menuju tempat mereka menginap. seketika Nur tidak bisa berbicara apa-apa saat melihat itu di depan mata kepalanya sendiri,. seperti Nur ingin menghantam kepala Bima saat itu juga. ia tidak pernah tahu, Bima segila ini. teman sepondok pesantrenya jadi seperti ini. “alasan kenapa aku berani ngajak kamu kesini karena aku tahu, si Bima dan Ayu pasti sekarang garap prokernya di kebun ubi,. bukan masalah apa-apa sih, tapi sebenarnya aku takut, setiap malam, aku dengar suara perempuan disini”. ucapan Anton yang terakhir, membuat Ayu tidak dapat bicara lagi,. saat ia, termenung sendiri, entah kenapa, insting Nur, mengatakan ada yang di sembunyikan oleh temanya. “siapa yang ada dikamar sama Bima?”. “itu masalahnya”. “setiap tak tungguin, tidak ada yang keluar dari kamarnya” kata anton.

Nur, tiba-tiba mendekati almari, ia merasa mendengar sesuatu disana. tepat ketika, almari itu terbuka,. Nur dan Anton tersentak kaget saat melihat, ada ular didalamnya. Ular itu berwarna hijau, kemudian lenyap setelah melewati jendela posyandu. Anton dan Nur hanya saling menatap satu sama lain,. tidak ada hal lagi yang harus mereka bicarakan. semenjak saat itu, Nur selalu mengawasi Bima, bahkan ketika akhirnya pak Prabu tiba-tiba mengatakan bahwa mereka semua akan tinggal satu atap,. meski terpisah dengan sekat. dari situ juga, Nur jadi lebih tahu,. Bima seringkali mengawasi Widya tanpa sepengetahuan siapapun. yang paling tidak bisa Nur lupakan adalah,. saat ia bertanya perilah kenapa ia jarang melihat Bima sholat lagi.

Bima selalu berdalih, tidak ada alasan kenapa ia harus mengatakan pada orang saat ia beribadah. meski Bima selalu bisa membalik pertanyaan Nur, ia tahu, Bima berbohong. puncaknya, ketika itu, sore hari, Nur baru saja selesai sholat asar di dalam kamar,. tiba-tiba, ia mendengar suara bising dari samping kamar,. Nur pun beranjak, mencari sumber suara. manakala ketika ia mencari, ia melihat Bima, sedang menabur sesuatu di tempat dimana Widya biasa duduk.

Nur, yang selalu membersihkan bunga-bungaan itu. aneh, namun kelakukan Bima semakin membuat Nur penasaran. namun, masalah tidak hanya berhenti di Bima saja, melainkan sahabatnya Widya. setelah maghrib, Nur pergi ke dapur untuk minum, saat, ia melihat Widya menatapnya. wajahnya kaget dan bingung melihat Nur,. “kenapa Wid?” tanya Nur yang juga kaget dan bingung. mata mereka saling bertemu, namun, hanya untuk saling mengamati satu sama lain. ketika Nur mendekati Widya, tiba-tiba Widya berlari ke kamar, lalu kembali menemui Nur,. matanya tampak seperti barusaja melihat setan.

“ada apa sih sebenarnya?” tanya Nur. Nur melihat tangan Widya sampai gemetaran,. Nur tidak tahu, kenapa Widya menjadi seperti ini, sampai pertanyaan Ayu, membuat Nur terhenyak dan menyadari anak-anak semua berkumpul disana. “ramai sekali, ada apa sih” tanya Ayu. “tidak tahu, anak ini, di ajak ngomong diam saja dari tadi”. “kenapa Wid?” tanya Wahyu yang mendekati. “tanganmu kok sampai gemetar begini, ada apa?” kata Anton tidak kalah penasaran.

“Nur ambilkan air minum gitu loh, kok malah diam saja”. kaget mendengar teguran Anton, Nur lalu mengambil teko air, dan memberikanya pada Widya, disini hal mengerikan itu terjadi. ketika Widya meneguk air dari teko yang sama dengan teko yang Nur minum tadi, tiba-tiba Widya berhenti meneguknya,. membiarkan air itu berhenti di dalam mulutnya,. lantas, Widya kemudian memasukkan jemarinya ke dalam mulut,. dan dari sana, keluar berhelai-helai rambut hitam panjang. Nur dan yang lainya. terperangah manakala Widya menarik sulur rambut itu dengan tanganya, tidak ada yang bisa berkomentar,.

lalu, Widya memeriksa isi teko, disana, semua orang melihat, didalamnya, ada segumpal rambut hitam panjang didalamnya. insiden itu membuat Widya memuntahkan isi perutnya, di tengah ketegangan itu, Anton tiba-tiba berucap. Wid, ada yang ngincar kamu ya,. kalau kata kakekku, bila tiba- keluar rambut entah darimana, biasanya kalau tidak di santet ya di incar setan. ucapan Anton, membuat suasana semakin tidak kondusif, ditengah kepanikan itu,.

tiba-tiba Nur, teringat dengan sosok penari yg ia lihat. “Wid, apa penari itu masih mengikuti kamu,. soalnya dari kemarin, aku belum melihatnya lagi) ucapan spontan Nur, membuat semua orang mengerutkan dahi, sehingga Nur akhirnya diam. setelah kejadian itu, Nur merasa bersalah, sehingga ia mencoba menjauhi Widya,. disini, tanpa sengaja, Nur mencuri dengar suara seseorang yang tengah berteriak satu sama lain.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *