Cerita Misteri – KKN di Desa Penari

Posted on

Namun, karena merasa enggak enak, karena sudah kenal dekat dengan keluarga Ayu akhirnya dengan terpaksa Pak Prabu mengizinkan mereka menjalankan proker KKN di desanya. Kalian yang udah baca cerita ini pasti udah tahu kejanggalan-kejanggalan yang terjadi, yang mengiringi Nur, Wahyu, Bima, Widya, Ayu dan Anton ketika berangkat menuju desa yang akan mereka tinggali.

Kejanggalan yang pertama berasal dari Nur yang memiliki firasat tidak enak tentang pemilihan tempat KKN-nya. karena orang Jawa sendiri memiliki keyakinan kalau wilayah timur itu bukanlah tempat yang bagus dan lebih mistis dibanding wilayah-wilayah lainnya. bahkan dari sudut pandang cerita Widya, dia mengibaratkan kalau ‘Banyu semilir mlayu ning etan’. yang artinya adalah ‘air mengalir ke sebelah timur’, dan memiliki makna kalau wilayah Timur adalah tempat di mana semua dikumpulkan antara yang buruk dan yang paling buruk.

Kejanggalan yang ke dua adalah ketika Ilham, Ayu dan Nur berangkat untuk mengobservasi desa Bapak Prabu kembali. Ketika dalam perjalanan mobil mereka berhenti di sebuah persimpangan jalan. Tiba-tiba, ada seorang kakek-kakek yang menghampiri mobil mereka. Kakek-kakek itu menatap Nur kemudian menggelengkan kepala seolah-olah memberi peringatan supaya mereka tidak melanjutkan perjalanan. Yang ketiga adalah ketika Ilham, Ayu dan Nur tiba di desa Pak Prabu.

Mereka kan dijemput sama warga desa di sana karena jalanan yang tidak mungkin dilewati dengan mobil. Mereka berangkat menggunakan motor dan harus menyusuri hutan sebelum tiba di desa tujuan.

Ketika sedang menyusuri hutan tersebut, Nur melihat sesosok perempuan sedang menari di atas sebuah batu seolah sedang menyambut kedatangan mereka. Kejanggalan yang keempat adalah ketika Ayu dan Nur akhirnya tiba di desa tersebut. lalu dengan didampingi Pak Prabu, mereka mulai melihat wilayah desa yang akan mereka jadikan program kerja KKN.

Sepanjang perjalanan itu Nur melihat sebuah batu hitam yang ditutupin dengan kain merah, lalu dibawahnya batu itu ada sesajen lengkap. Nah di atas batunya, Nur melihat ada sosok hitam berbulu, terus kepalanya itu bertanduk seperti kerbau dan matanya itu merah menyala. Padahal waktu itu masih siang hari. Nah, background dari Nur sendiri ini memang bisa melihat hal-hal gaib karena dia adalah seorang santriwati dulunya.

Lalu, diceritakan juga kalau Nur ini memiliki pendamping gaib seorang nenek-nenek dan diceritakan juga dari sudur pandang Widya. justru dengan pendampingnya Nur ini lah alasan Nur diganggu dan juga para penghuni mahluk halus di desa tersebut tidak suka dengan pendampingnya Nur. Yang kelima adalah firasat dari ibunya Widya. ibunya Widya ini punya firasat buruk ketika tahu tempat KKN yang jadi pilihan anaknya. Terus bertanya apakah enggak ada tempat lain terus apa enggak bisa diundur jadi tahun depan aja, gitu saking khawatirnya.

Kemudian, yang keenam adalah ketika akhirnya waktu keberangkatan, mobil elf yang ditumpangi sama Wahyu, Anton, Bima, Nur, Widya dan Ayu itu. kaca jendelanya digebrak sama seorang nenek-nenek misterius. mobilnya ini kebetulan lagi berhenti di lampu merah dan nenek-nenek ini yang gebrak jendelanya mobil elf mereka. itu natap Nur dan mulutnya tuh seolah-olah ngomong ‘Jangan berangkat, Nak’, gitu. seolah-olah nenek ini tahu kalau sesuatu yang buruk akan menimpa mereka jika melanjutkan perjalanan.

Nah ini yang ketujuh yaitu ketika akhirnya keenam mahasiswa ini tiba di depan hutan yang akan mereka susuri sebelum tiba di desa tujuan. mereka dijemput sama warga desa menggunakan motor, menyusuri hutan dan di sinilah Nur kembali melihat sosok penari yang sama ketika pertama kali tiba di desa ini. sedang menari dan diiringi oleh suara gamelan, konon katanya suara gamelan adalah pertanda buruk. Pertanda buruk yang pasti akan terjadi.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *